walau kemarin berlalu tanpa hari ini
tetap kuharap nanti datang kali ini
dan kau tetaplah bersendiri di ruang itu
di tempat semua lelaki mengambil perannya
sendiri sendiri, tanpa perduli jenis kelamin
atau isi otakmu.
sementara aku? ha...ha...ha...
tertawa sepanjang abad, sepanjang jarak
yang dapat kutempuh dengan puisi.
lalu puisi?ha...ha...ha...
ia cuma tawa tiada habisnya,
walau kemarin dan hari ini tak ada di waktu nanti.
kau percaya? kau tidak percaya?
bahwa kita sekarang tidak ada dalam waktu,
namun dalam penjara yang kita inginkan
sekaligus tidak kita harapkan.
itulah hari ini.
jakarta, februari sebelas 1995

0 komentar:
Posting Komentar